BALI SAUNA

← Journal

Panduan Herbal Sauna Bali: Pegagan, Kayu Putih, Boreh

4 Agustus 2026·8 min read·BALI SAUNA

Kalau masuk sauna herbal di Bali, tiga bahan ini yang paling mungkin Anda temui: pegagan, kayu putih, dan boreh — yang terakhir ini bukan satu tanaman, melainkan pasta rempah penghangat yang sudah dipakai ratusan tahun. Pegagan itu daun kecil yang menjalar di tanah, dikenal bikin pikiran tenang dan jernih; kayu putih masih kerabat eucalyptus, minyaknya melegakan jalan napas; boreh campuran jahe, lengkuas, cengkeh, dan rempah hangat lain yang dulu digosokkan petani Bali ke badan setelah seharian basah dan kedinginan di sawah. Di dalam uap, ketiganya berperilaku beda-beda — dan perbedaan itulah inti dari ritual herbal Bali.

Ini panduan lapangan untuk ketiganya. Apa mereka, dari mana asalnya, seperti apa aromanya, dan apa yang terjadi ketika segayung air rendaman herbal jatuh ke batu panas.

Kenapa Bali punya herbal sauna sendiri

Budaya sauna datang ke Bali dari tempat lain. Herbalnya tidak.

Bali punya salah satu tradisi pengobatan herbal tertua di Asia Tenggara yang tidak pernah putus dipraktikkan. Semuanya tercatat di naskah daun lontar yang disebut lontar usada — teks yang mendata tanaman, cara meraciknya, dan keluhan apa yang ditangani. Sebagian naskah itu umurnya ratusan tahun. Ilmunya lebih tua lagi, diwariskan dari mulut ke mulut antar penyembuh yang disebut balian, jauh sebelum ada yang menuliskannya.

Sisi praktis dari tradisi ini adalah jamu — ramuan herbal yang diminum, dijadikan pasta, atau ditempelkan sebagai kompres. Jalan-jalan ke pasar mana pun di Bali pagi-pagi, bahan mentahnya kelihatan semua: kunyit yang tangannya sampai oranye kalau megang, jahe dan lengkuas berbonggol-bonggol, ikatan daun segar yang dijual ibu-ibu yang hafal betul kegunaan tiap daun.

Jadi begitu ada sauna dibangun di Bali, muncul satu pertanyaan yang layak diajukan: apa jadinya kalau apotek lokal ini ketemu batu panas? Pertanyaan itulah dasar dari ritual herbal di lokasi Ubud kami — ada rak apotek berisi lebih dari 15 macam herbal Bali di samping dome: pegagan, kayu putih, racikan boreh, dan banyak lagi. Anda pilih sendiri herbalnya, lalu isi kantong teh dengan tangan sendiri. Kantong itu diseduh jadi teh herbal yang pekat, dan teh itulah yang disiramkan ke batu sebagai löyly. Kebanyakan sauna pakai aroma oil sintetis; di sini uapnya dari herbal sungguhan, benar-benar diekstrak, dan yang memilih Anda sendiri.

Ada juga kebetulan bahasa yang manis di sini. Nama Ubud berasal dari kata Bali ubad — obat, tanaman penyembuh. Uap herbal yang cuma bisa dicicipi di Ubud, kota yang namanya diambil dari kata obat — itu bukan bahasa iklan, memang begitu arti namanya.

Tiga bahan di bawah ini adalah inti rak tersebut.

Pegagan — daun yang pendiam

Apa itu. Pegagan adalah nama Indonesia untuk Centella asiatica, dalam bahasa Inggris dikenal sebagai gotu kola. Tanamannya kecil dan tidak mencolok — daun bundar bergelombang di batang tipis yang menjalar, tumbuh rendah di tempat lembap. Di Bali dia tumbuh di pinggir sawah dan sepanjang saluran irigasi, sering tanpa ada yang memperhatikan.

Pemakaian tradisional. Di seluruh Asia, gotu kola sejak lama dikaitkan dengan pikiran. Teks Ayurveda menggolongkannya sebagai medhya rasayana — herbal untuk kejernihan mental. Di Bali, pegagan muncul dalam racikan lontar usada dan juga dalam keseharian: daun segarnya dimakan mentah sebagai lalapan dan urap, diseduh jadi teh, atau diblender ke dalam jamu. Nenek-nenek Bali memberikannya ke anak yang perlu konsentrasi. Pegagan dianggap herbal yang mendinginkan — bukan soal suhu, tapi soal pembawaan. Sesuatu yang diminum saat kepala lagi panas.

Aromanya. Halus. Pegagan tidak mengumumkan diri seperti cengkeh atau jahe. Daun segarnya wangi hijau, agak seperti rumput, dengan pahit tipis di bawahnya — lebih dekat ke peterseli segar daripada ke wewangian. Dalam rendaman, dia jadi nada sayur yang lembut, seperti bau kebun habis hujan.

Di dalam uap. Di sinilah pegagan bikin orang kaget. Karena aromanya sangat pelan, löyly pegagan tidak menghantam — dia mengendap di sekeliling Anda. Uapnya wangi hijau dan bersih, bukan bau obat. Efeknya bukan soal hidung, tapi soal tempo: ronde pegagan itu ronde yang pelan, ronde saat sauna jadi hening dan orang-orang memejamkan mata. Kalau kayu putih herbal yang membangunkan badan, pegagan herbal yang mengizinkan pikiran istirahat.

Kayu putih — yang melegakan dada

Apa itu. Pohonnya Melaleuca cajuputi — cajeput dalam bahasa Inggris — kerabat eucalyptus sekaligus tea tree, dengan kulit kayu pucat tipis seperti kertas yang jadi asal namanya. Dia tumbuh di seluruh Nusantara, dan daunnya disuling dengan uap menjadi salah satu aroma paling akrab di negeri ini.

Pemakaian tradisional. Hampir tiap rumah di Indonesia punya sebotol minyak kayu putih. Ini obat andalan negara ini, yang pertama diraih kalau ada apa-apa. Digosok ke dada saat hidung mampet, ke perut saat masuk angin dan mual, ke pelipis saat pusing, ke anak-anak sebelum tidur. Ibu-ibu Bali mengoleskannya setelah anak mandi, dan buat banyak orang Indonesia, bau kayu putih itu ya bau disayang. Zat aktifnya cineole, senyawa yang sama yang bikin eucalyptus nendang, tapi kayu putih membawanya dengan sisi yang sedikit lebih lembut dan manis.

Aromanya. Langsung dan tidak mungkin salah. Seperti kamper, menembus, dengan bawaan manis buah yang tidak dimiliki eucalyptus. Satu tarikan napas dan rongga hidung terasa lebih lapang. Ini aroma yang datang dengan aksi fisik — kayu putih bukan cuma dicium, tapi terasa di sinus.

Di dalam uap. Kayu putih adalah herbal löyly klasik, dan alasannya mekanis. Uap membawa minyak atsiri, dan cineole sangat mudah menguap. Begitu air rendaman kayu putih kena batu 90°C, minyaknya langsung menguap dan menunggangi gelombang panas ke seluruh dome. Tarikan napas pertama tajam — ada yang sampai kaget — lalu dada terbuka. Napas jadi terasa lebih gampang, lebih dalam, lebih sadar. Di dome yang panas, insting kita menarik napas pendek-pendek; kayu putih diam-diam membetulkan itu. Ini herbal yang kami pakai di awal sesi, saat badan masih baru datang.

Boreh — apinya para petani

Apa itu. Boreh bukan tanaman. Dia racikan — pasta penghangat dari rempah yang ditumbuk, dan salah satu tradisi perawatan badan tertua di Bali. Boreh yang umum berisi jahe, lengkuas, cengkeh, kayu manis, pala, lada hitam, plus tepung beras sebagai pengikat — meski tiap desa dan tiap keluarga punya takaran sendiri. Ada yang menambah kunyit untuk kulit, atau kemiri untuk minyaknya.

Tradisinya, diceritakan dengan benar. Boreh lahir dari sawah. Petani Bali menghabiskan hari kerja berdiri di air — menanam, menyiangi, memanen, sering di tengah hujan. Dingin, basah, berulang-ulang. Malamnya, obatnya boreh: rempah ditumbuk segar di cobek batu, dicampur sedikit air jadi pasta kasar, lalu digosokkan ke kaki, punggung, dan sendi. Pasta ini menghangatkan kulit seperti cabai memanaskan lidah — bukan lewat suhu, tapi lewat senyawa seperti gingerol dan eugenol yang menyalakan reseptor hangat di tubuh. Peredaran darah naik ke permukaan. Otot kaku mengendur. Petani tidur dalam keadaan hangat.

Boreh tidak pernah jadi perawatan mewah. Dia obat rumahan, dibuat dengan tangan, dioleskan anggota keluarga satu sama lain. Baru jauh belakangan spa membawa boreh ke dalam ruangan dan menyajikannya sebagai perawatan khas Bali. Versi spa itu tetap asli — tapi asal-usulnya adalah lumpur, hujan, dan kaki yang pegal, dan begitulah dia pantas dikenang.

Aromanya. Kaya dan berlapis. Jahe dan lengkuas memberi nada atas yang cerah dan berbau akar; cengkeh dan kayu manis menyuplai hangat manis di bawahnya; pala dan lada menambah sisi gelap. Kalau pegagan wangi kebun dan kayu putih wangi apotek, boreh wangi dapur — tepatnya dapur Bali satu jam sebelum upacara.

Di dalam uap. Boreh dalam air löyly mengubah satu ronde sauna jadi sesuatu yang lebih dekat ke ritual. Minyak rempahnya lebih berat daripada cineole, jadi menguapnya lebih pelan dan bertahan lebih lama — aromanya menumpuk sepanjang ronde, bukan melonjak lalu hilang. Senyawa penghangatnya main trik kecil ke persepsi: udara 90°C yang sama terasa lebih dalam, lebih menembus, karena reseptor hangat di kulit dirangsang dari dua arah sekaligus. Ronde boreh itu ronde yang dibicarakan orang setelahnya. Dia juga ronde yang paling langsung menghubungkan sauna dengan Bali sendiri — rempah yang sama, logika kehangatan yang sama, yang dipercaya petani selama berabad-abad.

Cara ketiganya bekerja bersama

Sesi herbal yang bagus itu berurutan, bukan asal pilih.

Pola yang kami pakai di Ubud biasanya kayu putih dulu — buka jalan napas selagi badan masih segar dan keringat pertama baru datang. Lalu boreh di ronde tengah, saat badan sudah sanggup menerima panas yang lebih dalam dan rempahnya punya waktu menumpuk. Pegagan datang belakangan, saat kerjanya sudah selesai dan yang tersisa tinggal mereda.

Di antara ronde, dingin ambil bagian. Di Ubud itu berarti plunge 17°C dan 5°C, lalu fire pit di bawah pepohonan dan yoga shala. Herbal membentuk panasnya; air dingin menghapus papannya; istirahat adalah tempat semuanya mendarat.

Tidak ada dari ini yang butuh kepercayaan. Pegagan, kayu putih, dan boreh bukan sihir — mereka tanaman dan rempah dengan kerja yang spesifik dan sebagian besar sudah cukup dipahami, dipakai persis seperti rumah tangga Bali memakainya sejak lama. Sauna cuma memberi mereka cara antar yang baru: uap.

Catatan soal rooftop kami di Kuta

Ritual uap herbal adanya di Ubud. Rooftop Kuta kami menjalankan program yang beda — geodesic dome 80–95°C, empat ice bath pribadi di 17°C dan 7°C, beanbag di bawah langit terbuka. Sepuluh menit dari bandara, dibangun untuk panas, dingin, dan langit, bukan untuk herbal. Banyak tamu yang menjalani dua-duanya: Kuta untuk kontras yang tajam, Ubud untuk tanaman dan api.

Kalau mau mencium sendiri aromanya

Rak apotek lengkapnya — pegagan, kayu putih, racikan boreh, plus apa pun yang segar minggu itu — ada di BALI SAUNA + KAYUN HERBAL STEAM di Mas Village, Ubud (Jl. Raya Mas No.51). Buka setiap hari 08.00–21.00; tiket masuk 250.000 IDR — satu harga untuk semua. Detail ritualnya ada di halaman ritual herbal, dan tarif terbaru kedua lokasi ada di halaman harga. Tidak perlu reservasi, tapi kalau mau tahu apa yang ada di rak hari itu, paling gampang chat WhatsApp ke +62 813-3921-110.

herbal balisauna herbalpegagankayu putihborehuap herbalubud